Puisi sindiran, benarkah….?

19 Apr 2014

Beberapa minggu terakhir, fenomena menyampaikan sindiran melalui sebuah puisi menjadi tren terbaru dikancah dunia politik Indonesia. Tetapi yang paling membuat heboh dan gempar media adalah puisi hasil karya seorang petinggi sebuah partai politik, karena isi puisi tersebut disinyalir sedang menyindir salah seorang Capres dari lawan partai politiknya pada pilpres mendatang. Meski berkali-kali dibantah oleh sang penulis, namun banyak pihak yang menyakini bahwa tujuan penulisan puisi tersebut adalah menyindir sang capres lawan tersebut. Namun pada setiap kesempatan sang penulis selalu membantah dengan mengatakan bahwa tidak ada satu namapun yang tercantum dalam puisi tersebut, bagaimana mungkin publik bisa tahu kalau puisi itu ditujukan kepada lawan politiknya.

Pada sebuah acara talkshow disalah satu stasiun TV yang mengangkat tema itu, lagi-lagi sang penulis mengatakan bantahannya. Meski dicecar dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, jawaban sang penulis tetap sama. Hingga membuat salah satu pengamat politik dan narasumber lain yang ikut hadir pada saat itu hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Kalau dilihat secara eksplisit, memang benar tidak ada satu namapun yang tercantum pada puisi tersebut. Dan hal ini yang menjadi senjata andalan sang penulis untuk membantah penafsiran yang berkembang pada publik. Celah ini rupanya yang dimanfaatkan betul oleh sang penulis untuk membuat puisi sindiran dengan sesuka hatinya, asalkan tidak menyebut sebuah nama maka bisa dengan gampang membantah maksud penulisannya.

Tapi benarkah bantahan sang penulis? Ini pertanyaan yang sulit dijawab.

Jika mau mungkin bisa dianalogikan misalnya kita berada pada sebuah ruangan dan hanya berdua saja kemudian tercium maaf bau kent** lalu setelah kita tanya orang yang berada disamping kita dia tidak mau mengakuinya, dan kita sendiri merasa tidak melakukan, mendengar jawaban tidak, maka tentu saja kita hanya bisa mengiyakan apa saja yang dia katakan karena kita tidak bisa membuktikan apapun mengenai kejadian tersebut. Tapi dalam hati kita pasti punya keyakinan siapa yang melakukan. Dan akhirnya hanya ada satu kesimpulan yaitu orang itu tidak jujur. Jika analogi ini benar pertanyaanya kemudian apakah sang penulis tidak jujur?

Jawaban pasti dari pertanyaan ini hanya Tuhan dan sang penulis saja yang tahu. Sementara kita hanya bisa membuat kesimpulan sendiri-sendiri.

Tapi andaikata sang penulis ternyata benar tidak jujur, maka ini menjadi sebuah ironi, menjadi sebuah pertanyaan besar. Bagaimana tidak, karena dalam berbagai kesempatan sang penulis selalu mengajak kita semua untuk berkata jujur, untuk tidak berbohong. Tapi dalam kenyataanya dia sendiri tidak menyadari bahwa yang dia lakukan dengan membantah, membantah dan membantah adalah sebuah kebohongan. Artinya, apa yang dia sampaikan bertolakbelakang dengan apa yang dia lakukan. Disatu sisi menjelekan orang yang berbohong sementara dia sendiri tidak jujur. Padahal dalam kamus Indonesia tidak jujur artinya berbohong, berarti dia sama saja dengan orang yang disindirnya atau bahkan bisa jadi lebih jelek. Entahlah siapa yang benar dan jujur, dan siapa pula yang salah dan berbohong, silahkan disimpulkan sendiri.

Sebenarnya bukan membuat puisinya yang dipersoalkan, karena dijaman seperti sekarang ini, menyampaikan sesuatu melalui tulisan dijamin kebebasannya oleh Undang-undang terlepas apapun tujuan menulis puisi tersebut, pun bukan pula pada isinya. Yang dipersoalkan adalah lebih pada kejujuran sang penulis yang seharusnya secara gentleman mengakui secara jujur apa maksud dan tujuan puisi tersebut saat ditanya. Sehingga publik tidak terus bertanya-tanya dan membuat penasaran berbagai pihak. Penasaran karena publik merasa puisi itu ditujukan kepada seseorang, dan aromanya tercium hebat, tetapi sayangnya begitu susah dibuktikan.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post