Gila Caleg atau Caleg Gila…?

15 Apr 2014

Gonjang ganjing dan hiruk pikuk pemilu legislatif berakhir sudah. Namun bagi yang kemarin ikut “nyaleg” justru merupakan hari-hari yang sangat mendebarkan. Bagaimana tidak? ketika segala cara dan upaya sudah dilakukan untuk bisa meraih dan merasakan empuknya kursi parlemen, maka disaat inilah segalanya ditentukan. Apakah bisa berhasil mendulang suara minimal sebagai syarat untuk bisa menjadi wakil rakyat ataukah usahanya menjadi sia-sia belaka?

Jika berhasil maka tentu saja bayangan empuknya kursi parlemen seakan didepan mata. Gaji, rumah dan fasilitas-fasilitas lainnya akan segera dinikmati. Dan tentu saja predikat sebagi anggota dewan yang terhormat akan segera disandangnya. Namun jika gagal maka bisa ditebak akibatnya. Bagi yang punya banyak uang, mungkin tidak terlalu pusing. Tapi bagi yang punya uang pas-pasan maka gagal adalah kiamat. Terbayang hutang dimana-mana, dan rasa malu karena tidak terpilih.

Makanya wajar saja jika sehabis pemilu banyak caleg yang masuk rumah sakit, bahkan ada yang harus dibawa kerumah sakit jiwa. Miris memang, tapi itulah realita yang ada dinegara kita. Mungkin ada benarnya statment yang mengatakan bahwa demokrasi itu mahal. Fakta membuktikan untuk bisa menjadi caleg, ingat baru caleg saja sudah harus mengeluarkan banyak uang untuk sumbangan ke partai sebagai kendaraan politik. Belum lagi biaya kampanye yang mau tidak mau harus dianggarkan. Karena bagaimanapun supaya bisa dikenal orang tentu butuh sarana untuk mempromosikan diri. Dan biaya promosi inilah yang paling banyak menyedot anggaran, karena memang semuanya tidak murah.

Coba saja tengok berapa biaya untuk membuat spanduk, baliho, pamlet, kaos atau atribut lainnya. Atau jika mau pasang iklan melalui televisi, koran, majalah atau media lainnya tentu biayanya akan semakin membengkak pula. Itu baru prasarana, belum lagi biaya operasional untuk tim suksesnya. Ini juga tidak kalah mahalnya. Dan semuanya itu memakai uang, mahal sudah pasti, tapi tidak ada pilihan karena itulah konsekwensi yang mesti diambil. Sebab jika tidak, maka caleg tersebut akan tergerus dan gagal sebelum pemilu. Bisa dibayangkan, sudah gencar berpromosi saja bisa kalah apalagi kalau tidak mau mengiklankan diri, kecuali memang kita sudah punya nama. Tentu hal itu bisa saja terjadi, tapi bukan berarti tanpa biaya hanya mungkin lebih sedikit jika dibandingkan dengan orang yang belum punya nama sama sekali.

Fenomena caleg masuk rumah sakit jiwa selalu saja terjadi pada setiap hajatan pemilu. Hal ini menandakan bahwa tidak setiap caleg memiliki kesiapan mental yang kokoh. Mereka belum sepenuhnya menyadari bahwa pada setiap pertandingan tentu ada yang menang dan ada pula yang kalah. Artinya mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya, bukan hanya siap menang tetapi juga harus siap kalah. Dan dalam hal ini partai politik berkewajiban untuk terus menerus mengingatkan tentang hal ini kepada caleg-calegnya. Bahkan bila perlu setiap parpol mewajibkan semua caleg-calegnya mengikuti semacam training atau pelatihan mental. Siapkan mental mereka sebaik dan sekuat mungkin. Supaya kalau berhasil tidak membuat mereka jadi besar kepala serta lupa daratan dan kalaupun harus gagal mereka juga tidak terlalu limbung dan terpuruk.

Kenapa ini menjadi penting, karena sesungguhnya kekuatan mental seorang anggota dewan akan sangat berperan dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab mereka sebagai wakil rakyat. Tugas mereka berat karena harus bisa menyerap dan memperjuangkan aspirasi konstituennya. Bagaimana mungkin kita sebagai rakyat mau diwakili oleh orang-orang yang tidak memiliki mental bagus.

Sudah banyak contoh dimasa lalu saat wakil kita tersandung berbagai kasus korupsi. Mereka tidak tidak tahan godaan, tidak bisa menutup mata saat kilauan uang ada didepan mata mereka. Mereka lupa bahwa sesungguhnya dia dipilih untuk memperjuangkan semua aspirasi kita. Mereka dengan gampangnya melupakan janji-janjinya saat berkampanye dulu.

Tentu kita semua sepakat supaya hal ini jangan sampai terus-menerus terjadi pada wakil kita diparlemen. Tapi sekali lagi, harapan tinggalah harapan selama wakil kita belum memiliki mental yang kuat untuk menangkis semua godaan.

Selamat, bagi caleg yang nantinya terpilih untuk duduk sebagai anggota dewan. Pesan kami, jangan lupakan rakyat yang memilihmu. Sampaikan dan perjuangkan aspirasi rakyat. Sampaikan yang benar itu benar meskipun pahit dan katakan itu salah jika memang benar salah. Jangan membuat malu rakyat yang memilihmu, jangan pula membuat kami menyesal dan merasa berdosa sepanjang waktu karena memilihmu.

Bagi yang belum berhasil, bersabarlah. Mungkin belum saatnya menjadi wakil kami. Jangan patah semangat, jika memang benar tulus ingin memperjuangkan aspirasi dan kepentingan kami, berjuanglah dengan cara yang lain.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post