Plus Minus KJP

1 Dec 2012

Satu lagi gebrakan dilakukan Gubernur DKI, yakni dengan meluncurkan sebuah program yang dinamakan Kartu Jakarta Pintar (KJP).

c47aa4a003204eaf685df54ca3e2f23f_kartupintar1jordandalam

Sumber Gambar

Tidak seperti program bantuan pendidikan sebelum-sebelumnya yang berbentuk barang, KJP ini berbentuk uang cash. Bagi setiap siswa yang memiliki KJP ini bisa mengambil uang via ATM di Bank DKI untuk mencukupi kebutuhan sekolah seperti membeli buku, seragam, ongkos sekolah dan kebutuhan lainnya.

Jika program yang dicanangkan Gubernur DKI ini benar-benar didasari niatan untuk membantu kelangsungan pendidikan bagi siswa kurang mampu maka hal ini patut kita apresiasi, sebab dengan adanya program ini diharapkan semua warga DKI usia sekolah bisa mengenyam pendidikan tanpa harus dipusingkan dengan tingginya biaya yang harus dipikul orang tua siswa.

Namun program KJP ini tentunya bukanlah program yang benar-benar sempurna. Tentu saja ada nilai plus dan minusnya.

Nilai Plus

- Mengurangi siswa putus sekolah

Maksud awal diadakannya program KJP ini adalah untuk membantu siswa-siswi yang kurang mampu agar tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga diharapkan nantinya angka putus sekolah akan bisa dikurangi dan secara otomatis taraf pendidikan warga di Jakarta akan bisa merata.

- Memangkas jalur birokrasi

Kita semua tentu mengetahui, bahwa jalur birokrasi dinegara kita ini sangatlah rumit. Banyak program bagus yang dicanangkan pemerintah harus berakhir dengan kegagalan akibat rumitnya birokrasi ini. Tapi dengan KJP yang cara pencairan dananya melaui ATM , maka jalur birokrasi akan terpangkas dengan sendirinya. Karena dana dari Pemda akan langsung dimasukan kerekening siswa tanpa harus melalui tahapan pencairan. Dengan terpangkasnya jalur birokrasi, maka peluang untuk menyunat dana yang biasa dilakukan juga akan berkurang.

- Mendidik anak untuk belajar mengelola uang

Dengan cara pencairan uang via ATM ini, maka anak bisa diarahkan untuk belajar bagaimana caranya mengelola uang yang benar. Disinilah peran orangtua dan guru sangat diharapkan untuk ikut mengontrol penggunaan uangnya agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan siswa. Sebagai orangtua kita juga bisa menjelaskan kepada anak kita bahwa setiap rupiah itu berharga, karena uang merupakan hasil konversi dari keringat, tenaga dan waktu. Ini dilakukan agar anak terbuka cara berpikir dan pemikirannya, kita bisa menekankan pemahaman bahwa mencari uang itu tidak mudah sehingga dibutuhkan cara yang tepat dan cermat untuk mengelolanya.

Nilai Minus

- Disalahgunakan

Cara mendapatkan uang dengan mudah dan berkesinambungan ini yang membuka peluang untuk disalahgunakan oleh siswa. Bisa untuk beli pulsa, pergi ke warnet atau membeli barang-barang yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan sekolah. Ini yang harus benar-benar diperhatikan, dan orangtua harus bisa mencegah terjadinya hal ini. Ada semacam pepatah yang mengatakan uang yang gampang didapat akan gampang habis pula. Jangan sampai pepatah ini menjadi kenyataan akibat program ini.

- Menurunkan kreatifitas.

Saat ini banyak kita lihat siswa yang kurang mampu mencari tambahan uang sekolah dengan berbagai cara. Dari yang berjualan, mengamen atau cara lain yang mengandalkan kreatifitas anak . Tapi dengan adanya program ini maka bisa memicu menurunnya kreatifitas anak-anak tersebut. Mereka yang biasa belajar mandiri akan kembali bergantung dari bantuan pemerintah.

Tapi meskipun ada nila minusnya, kita masih berharap terobosan yang dilakukan pemerintah DKI ini bisa berhasil, tepat sasaran dan tepat guna. Meskipun untuk bisa seperti itu dibutuhkan kerja keras dan pengawasan yang terus menerus . Dan jika program ini ternyata sukses dijalankan maka tidak menutup kemungkinan program semacam ini akan ditiru oleh pemerintah daerah lain bahkan oleh pemerintah pusat.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post