Waspadai serangan fajar dan praktek pasca bayar

8 Jul 2012

Hari rabu tanggal 11 juli 2012 mendatang, warga Jakarta akan menyelenggarakan sebuah hajatan besar berupa pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Pada pemilukada Jakarta kali ini diikuti 6 pasang calon gubernur dan wakil gubernur. Empat pasangan melaui jalur partai sebagai kendaraan politiknya sementara dua pasang berasal dari jalur independen. Sebenarnya dengan banyaknya pilihan yang disodorkan kepada masyarakat menjadi kabar yang cukup menggembirakan karena hal ini mencerminkan bahwa demokrasi sudah berjalan kearah yang lebih baik. Setidaknya kita bisa memilih calon yang terbaik dari dari yang ada. Meski tentu saja hal ini tidak menjamin bahwa yang terpilih pada akhirnya adalah y ang terbaik. Mengapa demikian?

Seperti yang sama-sama kita ketahui bahwa banyak kasus proses pemilukada yang seharusnya berjalan secara demokratis, namun pada kenyataannya harus tercoreng karena dipenuhi dengan kecurangan. Ada banyak modus yang dipakai para kontestan dan pendukungnya. Dari penetapan daftar calon pemilih yang dimanipulasi,kampanye terselubung sampai dengan politik uang.

1. Manipulasi daftar calon pemilih

Memanipulasi data daftar calon pemilih adalah cara yang juga lumayan efektif untuk meningkatkan jumlah suara. Banyak kasus yang terkuak mengenai hal ini. Ada contoh orang yang sudah meninggal tetapi masih terdaftar. Kemudian ada juga sejumlah nama yang setelah dicek ternyata adalah seorang bayi. Dan masih banyak contoh lainnya

2. Kampanye terselubung

Kita tentu mahfum bahwa menurut peraturan setidaknya satu minggu menjelang pelaksanaan pemilu maka seharusnya sudah tidak ada lagi acara kampanye dengan cara apapun. Atau kita biasa menyebutnya minggu tenang. Namun pada prakteknya, hal ini belum seratus persen terjadi. Karena pada kenyataanya masih banyak atribut kampanye yang masih terpasang diberbagai pelosok Jakarta. KPUD sebagai pelaksana hajatan besar ini seharusnya bisa menyelesaikan masalah ini. Termasuk para pendukung kontestan, idealnya juga ikut membantu untuk mencopot berbagai spanduk dan baliho yang sudah mereka pasang sebelumnya sebagai bentuk tanggungjawab agar pelaksanaan pesta demokrasi ini bisa berjalan sesuai dengan peraturan yang sudah disepakati bersama. Atau barangkali ini sebuah unsur kesengajaan.

Disamping itu, seiring berkembangnya teknologi saat ini, ternyata disadari dan dimanfaatkan betul oleh para kontestan untuk melakukan kampanye. Sosial media yang saat ini sedang booming menjadi alat yang cukup efektif untuk melakukan hal ini. Dan media inilah yang berpotensi paling besar dijadikan alat kampanye terselubung.

3. Politik uang

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak pelaksanaan pemilukada yang diwarnai politik uang. Baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Dan untuk sekarang ini, hal itu juga sudah tercium aromanya. Bahkan sudah berkembang dimasyarakat setidaknya ada dua cara pelaksanaannya.

a. Serangan fajar

Untuk cara yang satu ini sudah berkembang dari jaman dulu, yakni dengan mendatangi rumah warga satu persatu dipagi buta sambil membawa iming-iming. Tentu saja saat memberikan yang biasanya berupa amplop para pendukung kontestan ini akan mempromosikan calon yang didukungnya. Disertai janji-janji jika calon yang didukungnya menang maka akan mendapatkan ini itu.

b. Pasca bayar

Kalau saat ini kita sering mendengar istilah pasca bayar pada pemanfaatan berbagai produk yang dijual dipasaran, maka rupanya politik uang juga mengenal istilah pasca bayar. Perbedaan yang paling mencolok adalah jika dengan cara serangan fajar pemberian amplop dilakukan sebelum pemillihan, maka pada modus pasca bayar pemberian amplop dilakukan setelah masa pemilihan. Dan lagi-lagi teknologi menjadi sarana untuk melakukan hal itu. Caranya adalah pada saat mencoblos surat suara, maka kita memanfaatkan kamera pada hp yang kita bawa untuk mengambil gambar surat suara. Kemudian setelah kita selesai melakukan pencoblosan, kita bisa menunjukan pada team sukses kontestan semacam alat bukti bahwa kita benar-benar telah memilih calon tersebut. Jika menurut team sukses itu benar maka baru kita berhak mendapatkan apa yang sudah menjadi kesepakatan.

Jika sinyalemen kecurangan-kecurangan pemilukada diatas benar-benar terjadi maka kita jangan terlalu berharap hasil yang didapat juga orang yang terbaik. Semoga saja pada pemilukada Jakarta kali semua itu tidak terjadi, dan pelaksanaan pemilihan bisa berjalan sesuai aturan yang berlaku sehingga bisa menghasilkan pemimpin yang baik, jujur, amanah dan mau memperjuangkan kepentingan rakyat bukan kepentingan perorangan maupun golongannya sendiri. Semoga


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post